Kebutuhan Lele Di Jakarta 80 Ton Sehari

Leave a comment

DKI Jakarta saat ini sebagaimana diungkapkan kapanlagi.com,masih kekurangan pasokan ikan lele sebanyak 68 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga yang mencapai 80 ton per hari sementara kemampuan pasokan hanya 12 ton.

“….kebutuhan konsumsi warga 
yang mencapai 80 ton per hari…..”

Direktur Pemasaran Dalam Negeri Ditjen Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP, Sadullah Muhdi, di Jakarta, Rabu, masih dikuti darikapanlagi.com, mengatakan, ikan lele, yang juga disebut cat fish

merupakan produk perikanan yang dapat menjadi sumber protein hewani yang sangat baik.

“Selain itu, dengan harganya yang terjangkau maka serapan oleh pasar pun cukup baik,” katanya dalam Dialog Sosial mengenai ikan lele yang diselenggarakan Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) dan Komunitas Wartawan Kelautan dan Perikanan (Komunikan).

Di dalam negeri, dia mengatakan, permintaan ikan lele cukup besar yang mana jenis lele dumbo menjadi pilihan yang diminati oleh pembudidaya pada umumnya karena mudah perawatannya dan cepat menghasilkan.

Sedangkan di DKI Jakarta tercatat sebanyak 3.000 lapak yang menjual menu pecek lele, di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, diperkirakan terdapat 5.000 lapak yang menjual jenis makanan tersebut.

Menurut dia, dalam satu hari penjual pecek lele dapat menghabiskan dua hingga lima kilogram ikan lele. Sehingga rata-rata pasokan ikan lele hanya untuk Jakarta mencapai 12 ton per hari, sedangkan untuk Jabodetabek dapat mencapai 20 ton per hari.

“Kebutuhan konsumsi lele di DKI saja mencapai 80 ton per hari. Sementara di Yogyakarta kebutuhannya untuk konsumsi baru 30 ton per hari,” ujar dia.

Peningkatan produksi budidaya ikan lele ini bergantung juga dengan perkembangan penjual pecek lele, ujar dia. Untuk itu diperlukan bimbingan dan masukan kepada para penjaja pecek lele agar usaha mereka lebih berkembang lagi sehingga berpengaruh pada budidaya ikan lele.

Lebih lanjut, Muhdi mengatakan, terkait dengan pengembangan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjajakan pecek lele hendaknya Pemda DKI juga dapat memberikan ruang dan bimbingan bagi para PKL agar usahanya tetap berjalan.

Selain itu masalah pendanaan dan pencitraan juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

“Masalah citra ikan lele harus ditingkatkan. jika perlu dilakukan diversifikasi nama sehingga pencitraan produk makanan olahan dari ikan lele ini semakin menarik konsumen,” katanya.

Dia mengungkapkan, hal itu telah dilakukan dilakukan pada olahan ikan patin yang disebut ikan dori untuk meningkatkan pencitraan produk perikanan tersebut di mata konsumen.

Sebagaimana diungkapkan kompas.com pun tidak jauh beda,” Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah.”

Advertisements

Ade dan Kolam Terpal Lele Sangkuriang

Leave a comment

KOMPAS.com — Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW 08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32), anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak dua tahun yang lalu.

Keberhasilan Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil mengembangkan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang, lele biakan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor. Baca Selengkapnya

Tentang Lele Sangkuriang

2 Comments

Nama Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat yaitu tentang seorang anak yang akan menikah dengan ibunya Dayang Sumbi. Demikian juga dengan Lele Sangkuriang yang dihasilkan dari persilangan induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dengan induk jantan lele dumbo generasi keenam(F6). Hal ini dilakukan sebagai upaya dari BBPBAT (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar) Sukabumi untuk mengembalikan kualitas lele dumbo seperti pertama kali didatangkan ke Indonesia.

Proses tersebut terbukti telah menghasilkan lele berkualitas unggul mendekati kualitas lele dumbo ketika pertama kali didatangkan ke Indonesia.Kualitas lele sangkuriang antara lain kemampuan produksi yang tinggi, masa panen lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, kemampuan bertelur dan daya tetas telur yang tinggi. Sehingga pada tahun 2004, lele hasil silang balik tersebut resmi dilepas oleh Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai komoditas baru ikan lele unggul melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KP.26./MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004.
(Sumber: Buku Jurus Sukses Beternak lele Sangkuriang, Nasrudin)